Rabu, 26 November 2008
Sejarah deSalic
deSalic yang artinya pejalan mempunyai makna yang sangat mendalam bagi kami. Setiap orang yang hidup di dunia ini pasti berjalan. Untuk naik motor, kita harus berjalan dulu. Untuk naik bus, kita harus berjalan dulu. Untuk menuju meja makan, kita juga harus berjalan dulu. Semuanya pasti harus berjalan. Sadar atau tidak, suka atau tidak kita pasti berjalan. Seperti itulah kami mengibaratkan perjalanan manusia menuju Tuhannya. Setiap manusia pasti berjalan menuju Tuhannya, menuju akhirat. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak, kita semua berjalan menuju Dia. Semuanya sama: pejalan. Perbedaannya adalah ada manusia yang berjalan menuju Tuhan dengan kebaikan, dan ada yang dengan keburukan. Nah, mudah-mudahan kita semua termasuk golongan orang-orang yang berjalan menuju-Nya dengan langkah-langkah kebaikan.
Berawal dari pertemanan sekumpulan anak muda di rumah Haji Simin, maka kami memutuskan membentuk sebuah komunitas yang memiliki nama. Hal ini semata-mata kami lakukan untuk membedakan antara komunitas dengan gerombolan. Walaupun tidak berbentuk organisasi, tapi kami sudah merasa cukup untuk tidak mendapat predikat gerombolan.
Setiap anggota deSalic memiliki talenta dan minat yang beragam. Ada yang jago bermain musik, otak-atik komputer, melukis, ahli teknik mesin, balap motor, jago beladiri, main PS, melihara kambing, bikin sate, masak sayur, dan lain-lain. Ide awal pembentukan komunitas ini diawali oleh ide membuat kaos. Karena bingung mencari desain logo dan nama kaos, akhirnya terbentuklah komunitas ini dengan nama deSalic. Melalui komunitas ini kami mencoba mengembangkan minat dan bakat secara positif. Salah satu kegiatan kami yang intensif adalah bermain musik. Grup band deSalic sampai saat ini sudah menciptakan puluhan lagu. Namun, belum semua lagu sudah direkam dalam bentuk master… Lagi nunggu promoter dan label yang berminat… hehehe
Personil deSalic sampai saat ini yaitu Yudi, Loetvi, Reza, Riff, Adjie, Haris, Madoen, Andika, Kober, Sania, Vivi, Embun, Rosid, Usup, Begon, Ajid, Zahri, dan Wiwik. Kami semua memiliki banyak kesamaan minat, tapi yang paling menonjol adalah sama-sama suka mengaji dan online internet. Kami biasa online di facebook, blogspot, wordpress, myspace, bing (blinko), Nimbuzz, Mig33, YM, Morange, Papaya, mocospace, dan program online lainnya. So, jika teman-teman sedang online dan melihat nick “deSalic” jangan ragu untuk menyapa dan berkawan.
Selasa, 25 November 2008
Jangan Jahat terhadap Binatang!
Cerita nyata ini baru terjadi beberapa hari yang lalu di lingkungan rumah kami. Ceritanya begini:
Suatu sore, Pak RT mengajak para warganya untuk datang menjenguk salah seorang tetangga kami yang sakit, sebut saja namanya Pak Bejo.
“Buruan! Dia udah kritis!” kata Pak RT dengan muka tegang.
Sebagai warga yang sudah mengenal betul karakter Pak RT, kami tidak segera mempercayai omongannya. Maklum, Pak RT bercandanya sering kelewatan. Banyak omongannya yang tidak sesuai fakta alias direkayasa.
“Siapa yang kritis, Pak RT?” tanya Pak Burhan, tetanggaku.
“Pak Bejo! Tadi saya sudah ke rumahnya!”
“Memang dia kritis kenapa?” tanya Pak Burhan lagi dengan logat
“Dia dicakarin kucing!”
“Pak RT bercanda aja! Masa dicakarin kucing bisa kritis… Bercanda aja nih, Pak RT!” ujar Pak Fandi.
Sebenarnya warga sudah malas mendengar cerita Pak RT. Kami menduga dia hanya membual seperti biasanya. Tetapi, tiba-tiba Pak Romanus datang mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Pak RT. Akhirnya, berangkatlah kami bersama-sama mengunjungi Pak Bejo.
Singkat cerita, memang betul Pak Bejo luka parah akibat cakaran dan gigitan kucing. Luka-luka itu didapatnya saat dia mengangkat seekor kucing liar yang sedang berkelahi dengan kucing kesayangannya. Karena kucingnya kalah, Pak Bejo marah dan mengangkat paksa kucing liar itu sambil berniat membantingnya. Tapi sial, kucing itu berbalik dan langsung menghujani wajah dan tubuhnya dengan cakaran. Alhasil, luka robek yang cukup dalam diderita Pak Bejo di kedua tangannya. Bahkan sekujur mukanya penuh dengan cakaran kucing.
Pak Bejo menolak anjuran keluarganya untuk berobat ke dokter. Dia hanya mengobati lukanya dengan betadine dan perban. Keadaannya semakin memburuk keesokan harinya. Sekujur tubuhnya panas tinggi. Badannya menggigil. Akhirnya, dengan rasa malu dan terpaksa, Pak Bejo tetanggaku itu berobat ke dokter di rumah sakit terdekat. Hingga cerita ini kutulis, kisah Pak Bejo dan kucing liar masih menjadi pembicaraan hangat warga.
Warga yang mengetahui kejadian itu bingung harus tertawa atau berbelasungkawa. Walaupun kejadian ini merupakan musibah, tapi unsur komedinya lumayan juga. Kasian deh lo! Jahat sih sama binatang… Hehehehee…